tuhan, kadangkala aku ingin bertanya mengapa ada kehendak-mu yang tak kutemukan jawabannya sekeras apapun aku berpikir.
saat bercinta di luar kawin sah dengan seorang hindu yang begitu tekun, sesekali aku merasa aku sebetulnya sedang menantang-mu. sedang mencari-cari keberadaanmu. melipat tanganku untuk bisa menangkap-mu. barangkali saat aku menggeliat begitu pedih, kau akan muncul dan menunjukkan wujud-mu. barangkali kita bisa jadi dekat.
kau hilang saat aku beriman, akankah kau muncul saat aku mulai beranjak meninggalkan?
doa seperti persinggahan maha-adil, satu-satunya media tempatku berhenti bertanya-tanya apa betul kau ada di sana? sebab dalam temaram yang begitu dingin, kupikirkan kau juga sama meringisnya kerap kali orang saling membunuh hanya demi menghidupkan-mu.
kuyakin kau takbisa tak peduli untuk yang satu itu.
tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama, yang kami sembah dengan berbagai cara, kadang aku ingin mengais keberadaanmu supaya aku bisa menyalahkan sesuatu. mungkin betulan karena kerjaan kau aku pilu, mungkin karena kau iseng dan tak ada jalan pintas menuju tempat itu. ada keangkuhan maha agung yang terus menerus membuatku berpikir barangkali keraguan ini ada karena keberadaan-mu lah yang membuatku berpikir.
iyas yang bilang, “bagaimana jika aku yang benar, dan surga neraka itu tak pernah ada?”
mungkin menyenangkan, kalau tuhanku, ternyata prankster yang luar biasa jagoan. tak ada surga, tak ada neraka, tak ada juga kau. hanya pikiran yang kupelihara. dan bahkan dalam imajinatifku pun, aku masih berharap kau bisa membuatku tenang.
aku masih berharap kau bisa aku salahkan.
kau ada, di kepala manusia, di sudutnya yang paling tak terkendali. makanya kau jadi beracun dan sangat sehat di waktu yang sama. entitas maha baik dan maha tidak baik, entitas maha segalanya dan oleh karenanya kau juga tidak segalanya. menyenangkan hidup dalam ketidakjelasan itu, sebab aku bertanya terus sampai mati, dan aku yang hidup tetap tak akan tahu apa kau bakal menjawabku.
kau tetap absen sekeras apapun aku berpikir. dan oleh karenanya, barangkali, kejanggalanmu, membuatku tak mengejar yang damai itu.
aku tak mengenalmu tak juga tak mengenalmu. kau bukan sahabat lama, kau juga bukan yang asing. tapi seolah kau jadi makin baru tiap aku bertambah umur. makanya entah kau yang berubah atau aku yang berpikir. kau tak pernah berkenan menjawabnya. kau tak pernah mau memberi tahu.
sebab kau ada di perutku saat aku kelaparan, tapi tak pernah kupahami mengapa kau tetap memaksaku memilih untuk menghancurkan lambung atau membunuh supaya bisa makan.
gambar dari sini.
tetap saja, betapa tenang, betapa nyaman punya sesuatu yang bisa kusalahkan, tak peduli seberapa sering aku berpikir.
sebab betapa menyenangkan memilikimu. hal sekecil iman itu hidup di dadaku tak lebih menarik daripada pentil. kau asyik dan tak banyak bicara. kau hanya ada dan aku memutar otak hanya untuk membuktikanmu, hanya untuk tak mengecewakan diriku sendiri bahwa kau benar-benar ada di situ.
seperti hening yang panjang sekali, aku berdoa supaya aku bisa berhenti berpikir, dan kau tak lagi ada, dan mereka tak lagi menyebutku mengada-ada. kau mungkin adalah ibu dari seorang anak laki-laki, atau ayah yang mengembara sampai bisa menciptakan dunia. dan doa, lagi-lagi, menyatukan kita. di kamarku yang hening yang berwujud seperti penjara, kau ada. menyaksikan saat aku masturbasi, ikut menggigil saat aku berusaha bunuh diri.
saat pendeta bilang kita akan dimaafkan tuhan setelah ia mengambil keperawananku dan aku tidak berhenti bertanya-tanya apa ampunannya adalah juga ampunanmu. betapa isengnya, betapa uniknya, betapa ngerinya.
tapi kau ada.
bahkan saat ustad itu ingin menjadikanku istri kedua dan ibuku sampai histeris hanya untuk melarangnya. kaukah juga yang mengizinkan itu? kau kah juga yang menyimpan kegilaan di kepala ibuku dan membuatnya menjerit tiap kali tak bisa menyelamatkanku?
tapi kau ada.
dan betapa melegakannya tetap berpikir seperti itu, meski tak pernah kau jawab, mengapa kau menciptakanku. betapa menenangkannya berpikir kau ada, dan aku tak lagi menggigil hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kusalahkan tiap kali aku kepayahan.
kau ada.
barangkali itu mengapa aku terus menerus kau buat berpikir.


