begitu sulit untuk mengakui bahwa angsa di hari itu mungkin sedang mencibir keinginanmu jadi pelikan. dan sayap-sayapmu seperti aubade yang menolak menyanyikan satu lagu lagi saja tanpa musik. tuli harmoninya. dan aku mendengarmu seperti bocah kecil kedinginan yang mendamba daging angsa.
ayahmu memang bilang apa?
tidak bilang apa-apa dan itulah masalahnya. maka kubayangkan saja aku mendengarkan alasannya dan jadi punya justifikasi untuk bersedih di hari itu. kau mendengarkanku. berdialog bersama angsa-angsa yang akan kujadikan sup karena mereka menertawakan mimpimu. aku berharap kau akan menertawakanku dan aku juga jadi punya alasan mengakhirimu juga.
kau tidak bicara apa-apa dan itulah masalahnya. aku ingin tahu apa kau akan meninggalkanku dan apa aku akan berharap bisa menyingkirkan diri darimu kalau kita betulan bersama. karena aku benci kau tidak mirip ayahku meski kau sama-sama tak bicara. denganmu, aku tahu alasannya.
jadi aku mendiamkanmu dan akhirnya kau gantian berdialog dengan angsa-angsa itu. kau menatap danaunya yang begitu tenang secara misterius entah sudah berapa banyak sedih yang sudah ditelannya. kau suka, asumsiku dalam soal itu. tapi aku juga ingin mendengar bagaimana jika akhirnya kau yang bernyanyi dan aku memilih untuk tetap bersamamu sehening apapun itu.
kau bilang apa?
aku ingin tahu mengapa. tapi kau, dengan kedinginan, mengajakku pulang. kita berkendara menempuh puluhan kilometer di sini yang luar biasa pengecutnya. ini kota kelahiranmu. ini kampung halamanmu. sementara bagiku, ini kepergianku yang kedua puluhsatu. aku tak punya kampung halaman. aku dilahirkan di tempat segala muram bersemayam dan tumbuh besar di kuburan orang-orang sakit. kepulanganku adalah kepergian yang lainnya, dari satu kota ke kota lain, dari tempat ke tempat lain, di lokasi yang mungkin namanya baru kaudengar hari ini. ketidakjelasan membuatku nyaman dan aku yakin sepenuhnya bagimu tidak sama. aku bisa meninggalkan semuanya seketika dan tetap merasa tidak apa-apa sementara jauh di lapisan otakmu, tumbuh dermaga tempatmu membangun harapan soal sebuah rumah, sebuah kota, sebuah adab beserta manusianya. kau ingin aku juga berada di sana.
ada kau di seluruh jalanan ini. dan aku orang gila yang mengenang seluruh sentinya seperti orang kesetanan yang takut. tidakkah kau dengar seluruh permohonan maaf itu? ini alasan kepilonan manusia yang merasa bisa menaklukan sebuah kota. mengapa kita bisa sebegitu percaya diri untuk bersikap bahwa kita punya seluruh tempat di dunia. aku benci juga dengan fakta betapa getir dan rapuhnya perjalanan kita. kelak kita akan terhuyung dan tidak ditangkap siapapun, oleh satu sama lain sekalipun.
ibumu bilang apa?
aku sering membawamu ke mana-mana. paling jauh waktu itu kita ke utara melihat angsa-angsa. pulangnya kita mampir menepi di tempat makan tak jauh dari tempat tinggalku. menunya sama. yang selalu aku konsumsi tujuh hari tanpa jeda. mengapa kamu tidak bosan juga?
ibuku akhirnya, yang bilang semuanya. katanya, “jangan benci ayahmu dan maafkan laki-laki yang mirip dia.” mataku rabun. semua kalimat pada pesan itu tidak terbaca. tapi di punggungmu, aku membisikkan begitu banyak dari ibuku yang tak berani ia sampaikan pada suaminya. pada segala luka yang telah membangun hutan dan seluruh tanaman hingga pepohonannya di tubuhku. pada segala kuman yang tak pernah resisten dengan semua cairan pembunuh apapun. pada ketakutanku yang selalu ingin bilang padamu,
“aku pernah ingin mengaborsi ibuku.”
aku ingin kamu mendengarnya. dan kamu akan bertanya, “kapan?” saat aku berkisah sambil bergidik kengerian. kegetiran di lidahku akan turut terasa di lidahmu. berpendar seperti sepotong embun. karena ceritaku dimulai dengan kalimat itu, “waktu itu dia sedang mengandung aku.”
ibuku bilang apa?
ibuku ingin bertemu denganku, seperti kau, seperti siapapun yang pernah mengenalku. dan semua upaya itu jadi seperti sia-sia. karena aku perempuan biasa yang pernah berharap andai aku dibiarkan mati jadi sel telur yang meluruh saja. tapi ibuku mencintaiku. kau mencintaiku. angsa-angsa itu ingin menemuiku dan mendesak supaya hidup mereka tak diakhiri. dan aku jadi orang jahat lagi sore ini.
kau bilang apa?
pelan-pelan kau bisikkan di telingaku. pelan-pelan kau akhirnya bilang sesuatu. dan ini perjalanan keduapuluh dua saat aku akhirnya melibatkanmu. jalanan yang terlalu ramai untuk ukuran tengah malam. kau bilang sesuatu. kau menyimak baik-baik saat aku bilang, maukah kau tetap ada mendengar segala kegilaankui?
“aku mau,” sepertinya kata-katamu begitu. “aku ingin kau ada di sini, tapi berjanjilah kau tidak ingin mengaborsi siapa-siapa lagi. tidak kau, tidak ibumu, tidak juga angsa yang kita ajak bicara siang itu.” mungkin aku akan menangis sebentar lagi. “lahirlah, sayangku, dan kau akan kucintai.”
mungkin itu yang kaudengar dari angsa-angsa. sebab kau mau lahir lagi jadi pelikan, dan aku akan tetap jadi aku kalau tidak ada orang yang bisa menghentikan ibuku.
kau bilang apa?
malam itu, kudengar angsa-angsa akhirnya mengakhiri percakapan mereka denganmu. dan aku berada di belakangmu, begitu dekat dengan tulang lehermu. membicarakan semua yang ibuku ingin suaminya dengar. mengatakan semua alasan yang selalu ingin kuketahui mengapa aku tetap ingin tahu sesuatu yang sudah pasti akan menghancurkanku. juga bangkai burung di kamar mandiku yang menelan seluruh kemalangan yang tak ikut pergi sesering apapun aku membasuh diri. dan anak kecil itu, yang tak pernah kuberi tahu padamu, yang tak pernah kuberi tahu diriku sendiri, yang begitu mirip aku bahkan hanya dari caranya membuka mulut. ia juga menelan kesialan yang sama.
ibuku bilang apa?
kau akan mendengarnya saat mengantarku pulang. tapi hari ini, tolong pura-puralah kami semua tak ada. dan kau bisa pergi dengar tenang seperti biasanya. seperti siang itu. seperti sore harinya. seperti sepiring nasi yang kita habiskan berdua.
seperti dialogmu dengan angsa-angsa.
pic from here



Tulisanmu selalu terasa seperti manusia, makasih banyak udah nulis tehh<3
selalu sukaaaaaa