kamu mungkin berandai-andai saat menciumku, “apa kamu mau punya anak sama aku?”
ilyas yang baik, aku berhenti berpikir soal cinta di hari aku menginjakkan kaki di apartemenmu. aku sudah lama tidak lagi coba-coba untuk memiliki yang satu itu, sejak aku sadar ibuku tidak bahagia dan ayahku mungkin akan berusaha kabur lagi. jadi di beberapa hari sebelum kepergianmu ini, biarkan untuk pertama kalinya aku berkata jujur.
ilyas, aku bukan tidak mau punya anak. aku tidak bisa punya anak.
lima tahun yang lalu aku menggadaikan rahimku. ibumu yang bijaksana itu pasti tidak akan setuju dengan keputusanku. meskipun beliau masih tidak mau menemuiku, tapi cobalah, kamu ceritakan padanya, yas, kamu menyukai perempuan yang tidak punya rahim. sudah hampir pasti kamu disuruh memilih: meninggalkanku atau meninggalkan ibumu. aku betulan berharap kamu tidak memilih yang kedua.
jadi, ilyas, tentu ada alasan mengapa aku tidak pernah keberatan soal banyak hal. justru itu tandanya, aku tahu aku tidak akan kena tipu. kehamilanku tidak akan bisa dijebak karena aku tidak memilikinya. dan entah ini berkat dari tuhan atau setan, karena setiap air yang masuk dalam tubuhku tak akan menjadi apapun yang membuatku ngeri ketakutan. kekosonganku melindungiku. kecacatanku akan menyelamatkanku. juga kamu.
ilyas yang baik, kamu akan terbang dalam beberapa hari lagi. aku tidak ingin mencegahmu pergi, tapi aku tahu kamu berhak atas penjelasan dariku, dari ketakutanku, dari ketidakmampuanku untuk menerimamu. kamu teman yang luar biasa menyenangkan, dan mungkin itu alasan mengapa aku tidak mampu mencintaimu. aku takut pada kenyamanan itu, pada perasaan tenang, pada kedamaian, pada apapun yang belum sempat kita lakukan.
dan aku mengerti juga, ilyas, mengapa seolah kebencian ibumu—di matamu—tidak beralasan, sementara bagiku semuanya jelas hanya dalam satu kedipan mata. aku memahami ibumu bahkan meski kami berdua tak pernah bertemu. kamu anak laki-laki yang luar biasa baik, jadi barangkali ibumu juga ingin kamu menghadirkan kamu yang lain, versi lebih kecil, dan hanya bisa muncul dari rahim seorang perempuan. dari objek berharga yang tidak lagi kupunya.
ilyas, kamu mungkin kaget bagaimana mungkin seseorang bisa menggadaikan rahim. sederhananya, aku pernah punya, sebagai sebuah gagasan. sebagai suatu konsep. sebagai suatu ide yang bisa tumbuh di dalam tubuhku meski aku tak pernah betul-betul menyentuhnya. jadi, bayangkan saja situasi ini, seseorang yang dengan sadar menghapus gagasannya karena tahu yang satu itu tidak akan bekerja. tidak akan memberi output baik. tidak akan berhasil. kumatikan saja dengan sebungkus rokok setiap hari dan bergelas-gelas bir yang kutahu tidak akan sehat buatku. aku tidak sedang berusaha bunuh diri, ilyas, aku justru sedang menyelamatkan diriku sendiri.
makanya lima tahun lalu ketika aku sudah tidak bisa merasakannya lagi, saat itulah aku tahu ada yang sudah kugadaikan. semua hilang begitu saja, tidak tersisa bahkan hanya dalam bentuk pikiran. bayaran yang kudapat adalah sepotong kelegaan kalau sampai mati aku tidak akan pernah punya bayi. aku tidak tahu di mana aku bisa menebusnya, ilyas, karena aku memang tidak berniat melakukannya.
ilyas, denganku, tak akan ada kelanjutanmu maupun kelanjutanku. dan itu bukan cita-cita suci menyelamatkan dunia atau menyelamatkan anak-anak supaya mereka tidak sengsara dengan tidak melahirkan mereka. tidak, ilyas, ini murni karena aku cacat dan aku tidak berniat sembuh.
aku tidak ingin sembuh.
pict from here.
ilyas, aku menyampaikan ini bukan hanya karena aku ingin kamu tahu kebenarannya. melainkan karena aku juga ingin melepaskan rasa bersalah dari diriku sendiri. dan aku ingin berhenti jadi perempuan keras kepala yang munafik. ini upayaku untuk berdamai dengan keadaan, dengan situasi yang tak bisa kukontrol, dengan semua hal yang harus selalu aku relakan tidak peduli seberapa hebat aku menginginkannya.
kubilang terus terang, ilyas, aku memang tidak percaya cinta, tapi bukan berarti aku berhenti mendoakan kebaikanmu. jadi anggaplah kepergianmu adalah salah satu usaha tuhan mengabulkan doa-doaku, anggaplah yang satu ini adalah bukti kemurahan hati tuhan yang begitu kamu percayai itu. ini adalah seluruh jawaban yang kamu cari pada ibadahmu yang kamu lakukan setiap pagi, bahkan seperti di hari itu, saat aku baru bangun dan pemandangan pertama yang kutemukan adalah kamu melipat tangan menyapa tuhan.
ilyas, hubunganmu dengan tuhan akan terus menyelamatkanmu. itu alasannya mengapa kupikir kamu akan tetap baik-baik saja, bagaimanapun kenyataannya.
jadi, ilyas, apapun bentuk pertanyaannya, dan dari siapapun penasaran itu muncul dalam bentuk kalimat, “apa kamu mau punya anak sama aku?” jawabannya bukan lagi sekadar kemauan atau tidak. lebih dalam daripada itu, aku tidak mau punya anak dengan siapapun. aku tidak bisa punya anak dengan siapapun.
dan dengan kebaikan hatimu itu, aku ingin supaya kamu tak perlu punya niat untuk menebus rahimku. sebab tak akan ada harga yang sepadan untuk semua kegetiran ketika aku masih memilikinya. kubiarkan dia jadi gagasan yang mati tanpa perlu lahir kembali.
ilyas, dunia akan mempertemukanmu dengan perempuan manis yang rahimnya tak digadaikan. jatuh cintalah padanya. lembutlah padanya. sebab rahimnya ada di perut dan di sanalah peradaban yang begitu kamu dambakan akan tercipta. yang dia punya bukan sekadar gagasan atau ide. dia masih memilikinya. perempuan itu akan sangat mencintaimu dan aku tahu kamu akan mencintainya juga.
lalu, ilyas, setelahnya aku akan melanjutkan perjalananku. menggadaikan bagian tubuhku yang lain. berharap kosongnya bisa meninggalkan kelegaan. entah bahagia atau tidak. lama tak kupikirkan yang satu itu.
karena aku sudah menggadaikan rahimku.



aku sedih… tapi aku juga lega deh kak aya ☹️
ya Allah..... kelegaan macam apa ini......