ada yang menarik dari bagaimana sebuah tempat bisa bercerita.
dalam salah satu kunjungan ke penjara, aku mendengar cerita tentang kejamnya penjaga dan menderitanya napi miskin dari balik jerujinya. besi-besi itu bilang soal, “tiap kali istrinya ke sini, dua potong ayam yang dititipkan ke penjaga itu tidak pernah sampai pada suaminya.”
waktu itu juga, salah seorang seniorku yang aktif di pergerakan, baru keluar dari penjara saat aku mengunjungi kantornya. kantor yang delapan bulan ditinggal itu kotor, bau sampah, dan berantakan juga. kami duduk tanpa suguhan makanan karena masih mempersiapkan berkas-berkas kasus yang belum selesai. banyak pembicaraan yang terjadi hari itu, tapi bangunan kantor yang sudah lama ditinggal itu berbincang lebih banyak. untuk segala kepengecutan yang kami manipulasi di balik kertas-kertas amicus curiae, ternyata kami semua cuma segelintir getir yang gagal melawan karena tidak punya apa-apa. dengan rusaknya printer karena tak pernah dipakai dan sisa kopi yang banyak semutnya, kami kalah hari itu.
aku tidak suka berjudi, tapi aku kenal salah seorang bandarnya. tempat karaoke yang dia kelola pernah beberapa kali berusaha digusur warga, tapi selalu selamat karena kaleng-kaleng bir bintang di kulkas aparat pangkat rendah di rumahnya itu. bangunan tempat karaokenya masih berdiri hingga hari ini. menghidupi perut gendut laki-laki berpenis kecil dan kesombongan mereka tiap malam.
dan begitulah tempat-tempat itu bercerita tentang apa yang selalu ditinggalkan manusianya. seperti waktu aku tengah menghabiskan makan malamku di tukang nasi goreng tak jauh dari hotel di semarang. bapak-bapak di depanku makan sendirian dan aku berpikir apakah harus mengajaknya bicara, tapi urung saat aku melihatnya membuka ponsel dan menelepon anaknya. dalam panggilan video itu, sang bapak menunjukan hotel di belakangnya sembari bicara pada anaknya, “bapak nginep di situ.”
tak ada kemuraman. cuma sepiring nasi goreng yang aku habiskan dalam kondisi sepi sebab aku pernah melintasi tiga kota dalam waktu satu minggu dan aku sadar betapa melelahkannya melakoni hidup yang semacam itu. lalu, saat untuk kesekian kalinya aku memandangi hotel di hadapanku, tempat tinggalku untuk tiga hari ke depan, aku menemukan diriku kembali merasa kosong.
akan berapa kali aku kehilangan definisi soal rumah dan menggantungkan kenyamanan hanya pada kepergian itu? akan berapa lama lagi aku menikmati cerita dari tempat-tempat bisu atas dalih membangun sendiri hidupku?
perjalananku melintasi puluhan kota, dalam seumur hidup, selalu dibayangkan seperti sebuah wisata super menyenangkan yang tak bisa kujalani saat masih lebih muda. aku bisa dengan mudah berbicara soal ini, tiap lewat hutan, biarkan ular melintas dan jangan dibunuh karena di sini kitalah tamunya. itu ilmu yang kudapatkan untuk menghargai alam—pengetahuan yang hadir karena aku hidup berminggu-minggu di sebuah desa di kalimantan barat sana tanpa banyak akses ke kota. atau kalau kita lebih dekat sedikit ke sungai batanghari, kita bisa dengan mudah melihat buaya. aku bersama seorang pekerja kebun saat lewat ke sana dan dia berkata padaku, “kita banyak mengambil tempat mereka.”
pulang seperti bentuk mengalah pada ratusan langkah yang entah apa artinya. makanya, untuk ukuran orang yang tidak pernah takut pergi, aku selalu gusar tiap kali membayangkan pulang dan menemukan bahwa hidupku sebetulnya tidak berubah sama sekali. aku tidak berubah jadi lebih baik, tidak menjelma jadi maha bijaksana. yang aku lakukan betul-betul hanya pergi saja. kabur.
makanya, saat akhirnya aku kehabisan napas di tengah-tengah hutan sawit di pekanbaru kala itu, aku menyadari yang jauh lebih mengerikan dari seluruh tempat yang kusinggahi sebetulnya bukan tempatnya, melainkan bagaimana sisi pikirku mengartikulasikannya dengan semua yang kurasakan saat aku mengunjunginya. dunia mahabesar dan mahamengecilkan, dengan seluruh ancaman di setiap sudutnya, yang lebih kutakutkan, lebih lebih daripada pulang, sebetulnya adalah kesepian.
aku sering membayangkan bandara atau stasiun atau pelabuhan akan membawaku sedikit lebih dekat dengan diriku sendiri. tapi, tiap kali kendaraan itu membawaku menuju tempat-tempat baru, aku hanya menemukan rasa sepi yang sama. seolah semua itu hidup dengan begitu leluasa di lambungku, turut tumbuh menjadi satu-satunya nutrisiku, dan aku tidak bisa menjalani kehidupan normal tanpa rasa sepi itu.
dan tempat karaoke yang kukenal baik pemiliknya, tempat singgah teman-temanku di jalanan, penjara, hutan, perkebunan, atau tempat-tempat lainnya, hanyalah suaka yang tak bisa kusebut sebagai pulang. aku bahkan tidak sanggup buat sekadar pura-pura kalau aku memang harusnya ada di sana. tidak ada yang menungguku, tidak ada yang memastikan aku ada di tempat-tempat itu di setiap sabtu.
maknanya perjalanan, mungkin bukan juga supaya aku tahu apa itu pulang. lebih sadis dari itu, perjalanan adalah masa di mana kita jadi selangkah lebih paham dengan apa itu kesepian. sebab dunia ini besar sekali. tak ada jalan pintas untuk kedamaian yang kita cari. tak ada rute tercepat untuk mengerti selain terus menerus pergi, tidak takut meninggalkan, tidak takut jalan sendirian.
saat tulisan ini selesai diketik, aku baru saja kembali ke jakarta setelah perjalanan supersingkat ke purwakarta. berkenalan dengan mang tatang dan tendensinya untuk pulang tiga hari sekali, berbincang padanya tentang ketahanan wisata, juga mendengar pemikiran-pemikirannya kalau dunia ini hancur, cuma orang kaya yang akan tetap baik-baik saja. itu perjalanan paling singkatku dalam lima tahun, dan kesepian yang kurasakan tiap kali menjejakkan kaki di tempat baru, tetap tidak bisa hilang.
jadi, tempat itu bisa saja cuma sekedar halte kanisius tempat kita menunggu bus yang tidak akan membawa kita cukup jauh dari bisingnya jakarta. mungkin bisa jadi cuma beberapa kilometer saja, menuju lebih dekat dengan tempat tinggal yang kita sewa seadanya, demi bisa bertahan hidup, demi bisa makan, demi lebih tenang.
demi bisa pergi lebih jauh lagi.
lalu kesepian, seperti hantu yang sudah begitu lama mendiami lemari yang tak berani kita buka.
buat mengusir, kita harus menghadapinya.
pic from here.



makasih udah menulis kak ayaa