dua tahun lalu, saya menghabiskan nyaris separuh hidup saya di bandara untuk berpindah dari satu kota menuju kota lainnya.
kalau ditotal, mungkin sudah delapan puluh lebih penerbangan bolak balik saya tempuh dari jakarta menuju banyak sekali tempat yang baru saya dengar nama desanya tahun itu. dari ujung sumatera sampai ujung kalimantan, beberapa kali nyaris menyeberang ke sulawesi tapi gagal karena kendala waktu dan tenaga. bisa dalam satu minggu, saya berada di tiga provinsi yang berbeda. menyusuri perkebunan dan pertambangan untuk begitu banyak tujuan. sebagian menyelesaikan sengketa lahan, sebagian lagi saya belajar tentang bagaimana penjahat lingkungan bekerja.
ini betulan lucu sekali karena tidak lama setelah resign, tepat setelah mendarat ke jakarta, saya menulis anekdot tentang situasi politik saat ini dan menyadari betapa saya merindukan kehidupan saya yang demikian. setahun kemarin, saya hampir tidak pernah ikut pergerakan baik sekadar diskusi maupun ke jalanan. betul-betul seperti mengabdikan diri pada kehidupan nomaden yang lumayan bikin kesepian.
lumayan menyedihkan.
bulan agustus tahun 2024, saya hanya punya waktu lima hari di jakarta. mendarat dari balikpapan hari kamis, lalu pada sabtu pagi saya harus terbang lagi menuju pontianak. pada hari-hari yang serba terbatas itu, saya termenung di bandara, dengan dahi ditempeli byebye fever karena demam yang tidak kunjung turun. saya menyadari bahwa hutan yang begitu saya hargai itu mungkin telah menolak keberadaan manusia sejak begitu lama.
mungkin orang-orang benar, saya memang dipenjara.
dari perkebunan sawit sampai tambang bauksit, saya telah melihat bagaimana manusia merusak hutan dengan cara yang paling keji. saya hanya diam saat seorang teman bicara dia tak lagi sanggup ke gereja karena merasa bersalah kepada tuhan karena tak bisa turut serta menjaga hutan. berbulan-bulan saya hidup bersama warga desa, hidup dengan hasil tani mereka, dan saat kembali ke jakarta, saya tetap tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan mereka. tidak juga dapat menyelamatkan diri saya sendiri.
bahkan saat saya bicara kepada mereka, kita selalu bisa melawan, ada kegetiran yang saya rasakan di lidah saya. seperti keraguan yang tak sanggup saya katakan, bahwa mungkin saya juga akan mati dalam upaya untuk melakukannya, sebelum sempat benar-benar berusaha.
dn aidit ikut mencangkul untuk memahami penderitaan petani, sebagaimana solidaritasnya muncul saat ia menghadapi persimpangan melihat elit inggris dan belanda berpesta pora ketika warga hanya sanggup mengintip kebahagiaan mereka lewat celah di gedung bioskop. soekarno bertemu dengan marhaen di bandung, dan mengabadikan pikiran sampai ke anak cucu serta pengikutnya dengan nama itu. dan desa-desa itu, seperti saya yang juga tumbuh sebagai orang miskin, memberi saya pemahaman luar biasa tentang arti bertahan yang tak akan diajari di manapun. ular yang melintas itu adalah pemilik hutan dan karenanya kita harus membiarkan mereka lewat. babi di kebun telah hidup lebih lama di sana dibanding kita. kita kepada hutan adalah penumpang yang luar biasa angkuh dan lupa diri.
kegoblokan manusia kapitalis adalah merasa bahwa mereka bisa bernapas dengan sawit atau bauksit. seolah mereka akan terus diselamatkan pada semua kebakaran lahan yang mereka sebabkan oleh tangan mereka sendiri. tapi, ada kengerian yang disembunyikan hutan—dan ada alasan mengapa nenek moyang kita menyembah pohon raksasa seperti beringin alih-alih perusak, seperti sawit.
pada bulan agustus itu, saya menatap hamparan pepohonan sawit yang memuakkan lama sekali. ini lah emas yang orang-orang gandrungi itu, dan seolah sedang menatap pembunuh yang akan menghabisi saya serta warga hanya dalam satu kali sabet, saya mengucapkan begitu banyak permohonan maaf. menjelang indonesia merdeka, kepala saya masih disabotase dengan apakah saya akan bisa makan setelah ini, jika saya memilih pergi.
mungkin, di hari itu, mahluk hutan, atau mahluk tuhan, memberi saya rasa sakit yang luar biasa di paru-paru, sebagai pertanda bahwa keraguan dalam bentuk apapun itu tidak akan membawa saya ke mana-mana.
dua tahun setelahnya, di bulan yang sama, berita kebakaran di kalimantan terus menerus memenuhi notifikasi ponsel saya. saya sengaja mencari berita tentang desa-desa yang pernah saya tinggali dan sekarang saya marah luar biasa. betapa manusia tidak belajar dari hutan, betapa manusia yang serakah selalu terus menemukan segala hal untuk dikuasai tidak peduli apakah hal tersebut menghancurkan sesamanya.
gambar diambil dari sini.
saya rasa akan munafik kalau kita terus menerus menyelidiki siapa ketika musuh itu sebetulnya ada di depan mata. sebab kapitalisme adalah barang dagang yang jauh lebih berbahaya dibanding bencana manapun, dan sampai sekarang nyawa manusia terus menerus diobral untuk membayarnya. apapun perorangan maupun korporasi itu barangkali seperti omong kosong yang dikatakan untuk membuat kita, warga, bisa diredam—ditipu.
namun hutan tak bisa kita bohongi dan manusia bukan satu-satunya yang membutuhkannya. kita di sini mungkin seperti sekumpulan kelompok bingung yang tidak akan pernah menyadari bahwa ancaman yang muncul dari kebakaran hutan bukan hanya api atau asap, melainkan punahnya kemauan untuk menatap bendera dengan sinar mata yang sama, atau melihat pemerintah jadi seperti segerombol pilon yang punya seribu satu cara untuk membunuh. kita bukan terbebas dari ancamannya, kita hanya terpisah sementara. menunggu waktu sampai tiba giliran kita.
dan saat kita juga turut habis dilahap api, yang tersisa bukan lagi permohonan maaf atau teriakan minta tolong supaya kita dibiarkan menyerah. melainkan hukuman tuhan yang beralih muka jadi pohon yang ditebang, jadi lahan yang ditutup dengan cara dibakar, dengan cara yang manusia tidak pernah duga bisa membinasakan mereka. ketika waktunya tiba, tak ada lagi kesedihan yang relevan selain upaya untuk melawan. giliran mereka yang dibakar hingga berubah wujud jadi abu, turut memunahkan satu bangsa yang terus menerus hidup dalam penyangkalan.
sebab mereka yang diam dan tidak berpikir akan dikutuk rusak otak.
dan kapitalisme tak akan punya harga untuk perlawanan itu.



"sebab mereka yang diam dan tidak berpikir akan dikutuk rusak otak." bahkan saat ini, sekadar memiliki otak pun sudah menjadi ancaman. otak-otak sudah dipaksa untuk rusak sebelum sempat mereka bekerja. mulut dicekoki janji manis yang berubah menjadi racun di dalam perut.
aku suka sekali membaca tulisan kamu, teh aya. semua terasa sangat dekat dan akurat. terima kasih sudah selalu bersuara dan berpikir. aku yakin banyak yang sudah terbantu olehmu. aku salah satunya. terima kasih! aku berdoa kita terhindar dari kutukan rusak otak.